Saturday, January 23, 2010

Coba-coba

Jadi ibu rumah tangga itu asyik. Bisa sama anak-anak terus. Berkuasa penuh akan rumah. Kalo malam nonton setumpuk DVD. Baca buku sepuasnya. Kalo suntuk jalan-jalan semaunya, meski cuma window shopping. Atau menemukan hal-hal baru dalam penjelajahan di pasar tradisional yang becek dan bau: sayur mayur yang belum pernah kulihat sebelumnya, beraneka jenis ikan tawar, dan yang pasti harga-harga yang jauh lebih miring bahkan jika dibandingkan dengan tukang sayur keliling.

Tapi kalo nonton berita, aku jadi iri. Apalagi kalo ngeliat wajah-wajah teman-teman seprofesiku dulu bermunculan di sela-sela mikrofon yang disodorkan ke mulut-mulut itu: para wakil rakyat, pejabat negara dan penguasa negara.

Ahh... Masa-masa itu sangat seru. Lari ke sana kemari mengejar orang tanpa lelah. Meski tekanan datang bertubi dari kantor, tapi berlarian di lapangan bisa membuatku merasa hidup. Hidup dan punya arti (dalam sudut pandang tertentu). Meski aku tidak pernah mendapatkan kepuasan finansial dari keringatku, tapi ada sesuatu dalam diriku yang terpuaskan. Apa ya, namanya? Aku tidak tahu istilah yang tepat apa.

Jadi apa benar ya, omongan Mario Teguh? Bahwa bekerja adalah wujud eksistensi diri.

Yang jelas, dengan bekerja aku tidak merasa menjadi parasit bagi siapapun. Meski yang kudapatkan mungki tidak mencukupi dan tidak membuatku mandiri sepenuhnya dari suami. Tapi aku punya harga diri di hadapannya. Setidaknya aku telah meneteskan keringatku.